Rabu, 29 Desember 2010

Photograph part I



Alam itu sangatlah luas jika kita benar2 meneliti sebagian kecil dari itu.
Hal yang sebenarnya bisa di jadikan objek untuk bahan photography, akan terlihat lebih menonjol apabila di ambil dari sudut pandang yang berbeda.

beberapa waktu yang lalu saya mencoba untuk pertama kalinya bereksperimen photography di sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak terpakai. Dan yang membuat takjub adalah sebuah tempat yang kecil itu baru saya sadari bisa jadi tempat yang spektakuler untuk pengambilan objek suatu gambar.

seperti ini misalnya :





dan tanaman yang kecil bahkan sering kali di anggap remeh oleh orang lain pun bisa jadi sesuatu yang indah..

semua itu tergantung dari seni kita,,
sense of art comes from within urself :)

jadi, galilah bakat yang ada dalam diri kalian.

Kamis, 23 Desember 2010

Night of Christmas


NIGHT OF CHRISTMAS!

Sebuah malam yang indah tiap tahunnya, terutama di bulan Desember. Tepat di tanggal 24 adalah moment malam natal yang indah sebelum menjelang natal itu tiba. Banyak harapan akan adanya suatu perubahan dalam hidup seseorang di hari yang penuh damai itu.

Ketika masuk dalam sebuah mall atau mungkin toko2 yang menjual aksesories natal, di situ mulai banyak di dengungkan musik2 bernuansa natal. Pelayan toko maupun mall itu menggunakan pernak pernik natal dengan kostum topi sinterklas di kepalanya. Terkadang, banyak hal yang membuat kita ingin cepat2 berada di hari natal. Biasanya, anak2 kecil pun segera ingin berebut kado natal yang ia pikir itu adalah dari sinterklas dan pitterpith. hahaha lucu juga kalo lagi inget tentang masa2 kecil saya.

Dalam natal tahun ini, saya merasakan begitu banyak berkat tercurah dalam hidup saya dan keluarga. Yang saya rasakan adalah malam natal ini. Saya tahu bahwa Allah memberikan anakNya suatu hadiah terindah, di mana kita tidak tahu bahkan tidak kita mengerti sebelumnya.

Kehadiran JuruSelamat di dunia ini membuat kita mendapatkan karunia yang begitu indah, yaitu keselamatan, pengampunan, kasih dan berkat. Ketika kita memilih untuk meb=ngikut dia, maka di saat itulah Tuhan memberikan kepada kita karuniaNYA.

Jangan jadikan natal sebagai moment perayaan untuk saling adu pakaian baru, atau mngkin jika tidak ada sesuatu yang baru untuk di kenakan, maka itu bukan natal terindah. Tidak! jangan pernah berpikir bahwa natal harus mengenakan sesuatu yang baru. Entah pakaian baru, aksesories baru, atau sepatu baru tapi kenakanlah hati yang baru, jiwa baru yang rindu akan hadirnya Tuhan dalam hidupmu.

Bawa hatimu untuk memasuki natal kali ini dengan hati yang di penuhi akan Roh Kudus. Biarlah natal kali ini membawa damai sejahtera dalam hidupmu.
amen..

GBUs :)

Jumat, 03 Desember 2010

Pengorbanan Sebuah Nyawa


Di sebuah Desa yang sejuk, hiduplah seorang Ayah (Mark) dengan anak lelakinya yang berumur 12 tahun (Shawn). Mereka hidup dengan kesederhanaan yang penuh sukacita. Dalam hidupnya, Mark selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena, Shawn adalah anak satu2nya yang ia miliki. Begitu juga dengan Shawn yang ingin membahagiakan Ayahnya.

Dengan penuh semangat, Shawn selalu membantu ayahnya yang bekerja sebagai penjaga pintu Kereta Api. Pagi, siang, hingga malam pun Mark tetap setia dalam pekerjaannya. Karena pekerjaan ini sudah ia lakukan sejak Shawn 15tahun silam, hal ini membuat Shawn pun akhirnya mengetahui sedikit demi sedikit tugas2 yang di lakukan ayahnya.

Suatu ketika, Shawn berjalan bersama dengan ayahnya di sepanjang rel kereta api. Mereka berlarian dan sesekali ayahnya mengangkat Shawn dalam pelukannya. Kebahagiaan itu membuat Mark terkadang lupa dengan rasa lelahnya. Tawa Shawn lah yang membuat ia bersemangat.

Di sore hari yang cerah, Mark berada pada pos pintu jaga Kereta Api dan jalur air untuk kapal kecil agar dapat melintasi di bawah rel itu. Ketika sirine penanda kapal akan lewat pun berbunyi, Mark langsung mengangkat tuasnya agar rel kereta api terangkat untuk sementara supaya kapal ini dapat melintas di bawahnya. Selang 15 menit setelah kapal itu lewat, Mark meninggalkan tempat ia berdiri saat itu untuk mengambil secangkir kopi. Ia memastikan terlebih dahulu bahwa Shawn aman bermain di pinggir danau. Ia melihat Shawn yang memancing ikan itu sedang duduk dan melambaikan tangan untuk Ayahnya sambil tersenyum.

Tidak lama, Shawn yang ketika itu sedang duduk santai di pinggir danau melihat ada kepulan asap akan mendekati lintasan kereta api. Ia tercengang lalu melepaskan pancingan yang ia pegang saat itu. Ia sadar bahwa kepulan asap itu adalah milik Kereta Api yang akan melintas. Ia berteriak memanggil ayahnya. Namun, ayahnya tak kunjung keluar. Ia berteriak sekali lagi,”AYAH!! TURUNKAN TUASNYA!! KERETA ITU SEMAKIN DEKAT!” Namun, tidak ada jawaban dari dalam pos jaga itu. Shawn semakin takut apabila terjadi sesuatu dengan kereta api itu. Karena, ia berpikir bahwa ini menyangkut ratusan nyawa di dalamnya. Sekali lagi ia berteriak memanggil ayahnya, namun teriakan itu tidak terdengar oleh ayahnya. Shawn bingung jika ia menghampiiri ayahnya di Pos, maka kereta api itu akan masuk ke dalam danau, jalur lintas kapal.

Dan akhirnya, Shawn berlari menuju jembatan penghubung kereta api yang saat itu dalam keadaan masih terangkat. Ia tepat berada di himpitan jembatan itu untuk menarik tuasnya dengan cara manual. Namun, ketika ia telah menggapai tuas itu, ia terjungkal dan akhirnya ia terjebak di tengah himpitan jembatan penghubung itu dengan kepala berada di bawah. Ia terus mencoba untuk keluar dari himpitan itu, namun tenaga kecilnya tak sanggup membuatnya keluar dengan cepat.

Tidak lama, Mark keluar dengan membawa secangkir kopi hangat. Ia terkejut ketika di lihatnya ada sebuah kepulan asap yang semakin mendekat dengan jembatan itu. Ia tidak tahu dengan kejadian yang menimpa anaknya saat itu. Kemudian, ia tersadar bahwa Shawn sudah tidak lagi ada di pinggir danau. Mark terus memanggil Shawn dengan kencang. Namun, tidak ada jawaban Shawn ketika itu. Alangkah terkejutnya Mark, ketika ia melihat ke arah jembatan. Di mana Shawn mencoba mengaitkan kakinya dengan besi tua yang berada di atas jembatan itu . Mark yang tahu bahwa apa yang di lihatnya itu adalah kaki Shawn, maka ia keluar dari Pos dan ia akan melangkah menghampiri Shawn. Namun, ia di hadapi dilema di mana saat itu kereta api akan lewat. Ia hanya bisa berteriak dan menangis memanggil nama anaknya. Ia bingung dan di hadapi 2 pilihan antara menurunkan tuas yang ada di pos itu agar kereta itu bisa lewat tetapi dengan konsekuensi bahwa Shawn harus mati terhimpit di jembatan itu, atau ia menyelamatkan nyawa anaknya tetapi ia harus mengorbankan ratusan nyawa yang ada di dalam keretapi itu.

Ketika itu Mark ingin mencoba berlari menghampiri anaknya, tapi ia teringat dengan penumpang kereta api yang juga ada di tangannya. Ia berada di depan tuas itu sambil menghantamkan kepalanya ke dinding tua Pos itu. Ia tampak sangat menyesal dengan kecerobohan yang ia lakukan. Di dalam hatinya, ia tidak ingin kehilangan anak yang di cintainya. Kini nasib anaknya dan juga penumpang KA ada di tangannya. Apakah ia harus merelakan Shawn atau ratusan penumpang yang ia tidak kenali sebelumnya.

Akhirnya, ia berteriak dan ia menangis dalam tekanannya. Tuas itupun akhirnya….. ia turunkan!

Jembatan itu pun perlahan demi perlahan turun. Dan di depan mata kepalanya, Mark melihat Shawn yang saat itu terjebak di jembatan itu pun terhimpit besi tua rel kereta api yang sedang turun. Dalam tangisnya ia mendengar Shawn sempat berteriak memanggil ayahnya. Namun,Mark sadar bahwa ia dengan besar hati harus merelakan anak satu2nya demi ratusan nyawa di dalam kereta itu. Dan di waktu yang tepat, jembatan itu pun tertutp sehingga KA dapat melintasinya. Mark menjerit karena ia tahu bahwa Shawn telah tiada. Anak yang menjadi penantiannya selama 10 tahun dahulu telah tewas terhimpit jembatan KA itu. Dari beberapa penumpang yang ada di dalamnya, ada yang melihat Mark menangis dalam kesesakannya saat itu. Namun, ada juga yang mengabaikan tangisan sang penjaga pintu KA itu, mereka terlalu menyibukkan diri mereka dengan hal2 yang mereka lakukan tanpa mengetahui kebesaran hati seorang ayah merelakan anaknya tewas demi ratusan penumpang di dalam KA tersebut.

Dari cerita ini, kita dapat mengambil suatu pemahaman, bahwa Allah Bapa yang dengan ketulusan hatiNYA telah mengorbankan Yesus putraNYA yang tunggal demi kita manusia yang terkadang sangat melukai hatiNYA. Namun, IA adalah Bapa yang kekal. Di saat kita berbuat dosa, IA tetap menjadi seorang Bapa yang terus menanti anakNYA di kala sedih, suka, maupun dalam kebimbangan. Kita adalah manusia yang di panggil oleh Allah untuk menjadi anakNYA. Dan itu semua tergantung, bagaimana kita menanggapi panggilan Allah dalam hati kita. Apakah kita akan menolak panggilan Allah dalam hidup kita?? Tentu tidak. Kita telah di tebus melalui darah Yesus yang telah mati di kayu salib. Dalam kerapuhan kita, kita tetaplah menjadi sosok penantian Tuhan untuk menjadi saksiNYA.

Bukalah hatimu untuk menerima panggilan TUHAN dan menjadi pilihanNYA J

GBU always……